Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

24.4.11

Dear John



watched the movie of Dear john lately. sad but not too much.
at first, i planned to write a review about this movie. and i also wanted to write some of the letter sent between the two lovers.
but finally i decided to post the meaning of dear john letter.
so, here's the explanation of dear john letter:


A "Dear John letter" is a letter written to a husband or boyfriend by his wife or girlfriend to inform him their relationship is over, usually because the author has found another lover. Dear John Letters are often written out of an inability or unwillingness to inform the person face to face. The reverse situation, in which someone writes to his wife or girlfriend to break off the relationship, is referred to as a "Dear Jane letter."
While the exact origins of the phrase are unknown, it is commonly believed to have been coined by Americans during World War II. Large numbers of American troops were stationed overseas for many months or years, and as time passed many of their wives or girlfriends decided to begin a relationship with a new man rather than wait for their old one to return.
As letters to servicemen from wives or girlfriends back home would typically contain affectionate language (such as "Dear Johnny", "My dearest John", or simply "Darling"), a serviceman receiving a note beginning with a curt "Dear John" would instantly be aware of the letter's purpose.
A writer in the Democrat and Chronicle of Rochester, NY, summed it up in August 1945:
"Dear John," the letter began. "I have found someone else whom I think the world of. I think the only way out is for us to get a divorce," it said. They usually began like that, those letters that told of infidelity on the part of the wives of servicemen... The men called them "Dear Johns".
An early reference to Dear John letters was made in a United Press article of March 21, 1944.[1]
There are a number of theories on why the name John is used rather than any other. John was a common name in America at the time the term was coined. John is also the name used in many other terms that refer to an anonymous man or men, such as "John Doe" or "John Smith". Another possible source for the term is the "Dear John" soap opera which was on the radio from 1933 to 1944.
The phrase "that's all she wrote" is believed to have originated from Dear John letters. These letters would contain either the words "Dear John" and abruptly terminate, or only contain the words "Dear John, goodbye." The phrase "that's all she wrote" is used to indicate the end of story or an abrupt end of story, especially when the reader has a desire to know more, but the writer does not want to fulfill that desire.

source: 

30.9.10

pride and prejudice

 


Summary:de_siah
Novel ini berkisah tentang seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan dan kaya yang saling jatuh cinta. Ditulis pada tahun 1796-1797 dan dipublikasin pertama kali pada tahun 1813. Berawal dengan kedatangan Tuan William Bingley, pemuda tampan dari keluarga kaya ke daerah tempat tinggal Lizzy (Elizabeth). Lizzy bersama keempat saudara perempuannya diundang ke pesta yang diadakan untuk menyambut kedatangannya. Karena Tuan Bennet tidak mempunya anak laki-laki, dan tradisi Inggris saat itu hanya mewariskan harta kepada penerus laki-laki, maka jika Tuan Bennet meninggal kelak, yang akan mewarisi seluruh hartanya adalah Tuan William Collins, keponakan ayahnya yang tidak mereka kenal. Khawatir dengan nasib puteri-puterinya sepeninggal dirinya kelak, Tuan Bennet dan istrinya berusaha agar anak-anaknya cepat menikah dengan orang yang dipandang mampu.Kedatangan tuan Bingley ke desa itu, memberi harapan pada keluarga tersebut, Nyonya Bennet berharap Tuan Bingley akan tertarik pada salah satu anaknya, terutama Jane, Jane adalah puteri tertua dan yang paling cantik diantara mereka berlima.Pesta yang ditunggu tiba, semua yang hadir tampak gembira. Ternyata Tuan Bingley tidak datang sendiri, tetapi bersama kakak perempuannya Lady Caroline dan sahabatnya, Tuan Darcy. Saat istirahat, Nyonya Bennet mendesak suaminya agar memperkenalkan puteri-puteri kepada Tuan Bingley. Sesuai harapan, Tuan Bingley mengajak Jane dansa. Lizzy bertanya apakah Tuan Darcy mau berdansa dengannya, namun ditolak. Lizzy pergi meninggalkan Tuan Darcy dan bergabung dengan Charlotte. Menurut Lizzy, Tuan Darcy pemuda tampan, kaya yang arogan.Tuan Collins datang dan berniat mencari isteri. Pertama ia menyukai Jane namun karena Jane sudah dengan Tuan Bingley ia mengalihkan perhatiannya kepada Lizzy. Dia berniat memperistri Lizzy. Ibunya senang mendengar hal itu, namun tidak dengan Lizzy. Ia tidak menyukai Tuan Collins. Lizzy menolaknya. Hal itu membuat ibunya histeris, dan memaksa suaminya membujuk Lizzy. Tapi Tuan Bennet membela puterinya.Lizzy bersaudara diundang lagi ke pesta Tuan Bingley. Sebelum pesta, mereka sempat berkenalan dengan Tuan Wickham, seorang tentara muda yang gagah dan tampan, pernah tinggal di rumah Tuan Darcy. Tuan Collins juga hadir disitu dan terus mengejar Lizzy, Lizzy berusaha menghindar. Tuan Darcy mengajak Lizzy berdansa dengannya. Mereka berdansa sambil berbicara, seolah-olah hanya mereka saja yang ada disitu. Namun akhirnya Lizzy meninggalkannya dengan marah.Seminggu kemudian, Jane dapat undangan makan malam dari kakak Tuan Bingley, Lady Caroline. Setiba disana Jane jatuh sakit akibat cuaca buruk dan tidak bisa pulang ke rumah. Karena khawatir terhadap kakaknya, Lizzy nekad menyusulnya. Disana ia bertemu Lady Caroline dan Tuan Darcy. Ketika mau pulang keesokan harinya, saat Lizzy hendak naik ke kereta kuda, tanpa sadar Tuan Darcy memegang tangan Lizzy untuk membantunya naik ke kereta. Peristiwa itu memberi kesan yang mendalam bagi keduanya.Kabar buruk bagi Jane, beberapa hari kemudian Tuan Bingley tiba-tiba memutuskan hubungan dengannya. Meski sedih, Jane berusaha tetap tabah. Lizzy berkunjung ke rumah Charlotte yang kini sudah menikah dengan Pendeta Collins. Disana Lizzy diperkenalkan kepada Lady Catherine yang ternyata adalah bibi Tuan Darcy. Tanpa disangka Tuan Darcy ada disana. Keesokan harinya Tuan Darcy datang kerumah Pendeta Collins, saat itu Lizzy sedang sendiri karena Charlotte dan Pendeta William sedang pergi. Tuan Darcy tampak kikuk, kemudian buru-buru pergi lagi.Saat di gereja, Lizzy mendapat berita yang mengejutkan. Dari pengawal Tuan Darcy, Lizzy diberitahu bahwa yang punya peran besar putusnya Tuan Bingley dan Jane adalah Darcy. Lizzy marah besar. Kemarahannya menutupi perasaan cintanya pada Tuan Darcy.Saat Tuan Darcy menyatakan cintanya pada Lizzy, Lizzy dengan tegas menolak. Ia marah dan minta penjelasan atas sikap Tuan Darcy terhadap kakaknya Jane, dan juga mempertanyakan sikapnya memusuhi Tuan Wickham.Malam harinya, ketika Lizzy sedang melamun dikamarnya, Tuan Darcy datang dan menaruh surat diatas meja kamarnya. Lizzy berbalik namun hanya melihat Tuan Darcy pergi dengan kudanya. Lizzy mengambil surat itu dan membacanya. Surat tersebut berisi penjelasan atas sikapnya mengenai Jane dan Bingley, juga tentang Tuan Wickham.Sepulangnya dari rumah Charlotte, Lizzy berkunjung ke rumah bibinya di kota. Dari sana mereka pergi berkunjung ke Pemberley, rumah Tuan Darcy yang dibuka untuk umum. Karena Tuan Darcy jarang berada dirumah itu, Lizzy menerima ajakan untuk berkunjung kesana. Ternyata Tuan Darcy ada disana, mereka bertemu dengan kikuk. Lizzy buru-buru pulang ke penginapan. Malam hari Tuan Darcy datang ke tempat Lizzy menginap dan mengundang mereka bertiga makan malam besok di rumahnya.Pulang ke penginapan, Lizzy mendapat surat dari Jane yang mengabarkan bahwa Lidya kabur bersama Tuan Wickham. Tuan Darcy menawarkan diri untuk mencari. Lizzy pulang ke rumah dengan perasaan kacau. Surat dari pamannya datang, mengabarkan bahwa Lidya sudah ditemukan dan menikah. Ketika Lidya pulang bersama suaminya, Tuan Wickham, saat makan, Lidya kelepasan berbicara bahwa Tuan Darcylah yang membantu menikahkan mereka. Lizzy terkejut.Suatu hari Tuan Bingley ditemani Tuan Darcy datang ke rumah Lizzy untuk melamar Jane. Hal itu disambut gembira mereka sekeluarga. Namun ketika tengah malam, mereka kedatangan tamu yang ternyata Lady Catherine. Beliau ingin berbicara dengan Lizzy dan memintanya meninggalkan Tuan Darcy, karena sudah dijodohkan dengan puterinya. Lizzy bingung, ia merasa tidak punya hubungan apa-apa dengan Darcy. Namun karena terus dihina oleh Lady Catherine, membuat Lizzy marah dan berjanji tidak akan berhubungan dengan Darcy. Semalaman Lizzy tidak tidur, ia terus melamun sepanjang malam. Saat subuh, Lizzy pergi keluar untuk jalan-jalan sambil menenangkan pikirannya. Ia melihat Tuan Darcy dari jauh berjalan mendekat. Tuan Darcy menjelaskan semua, dan berjanji tidak akan mengganggu Lizzy lagi jika Lizzy tak mecintainya. Karena Lizzy sudah mengetahui siapa Tuan Darcy sebenarnya dan mencintainya, Lizzy menerimanya dengan senang hati. Mereka pulang ke rumah Lizzy untuk menghadap Tuan Bennet, ayah Lizzy. Cerita yang romantis dan mengharukan. Lizzy (Elizabeth) Bennet yang cerdas yang akhir menemukan kekasih hatinya, Tuan Fitzwilliam Darcy.
Pride and Prejudice Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/books/490433-pride-prejudice/
 
 
 
 
 

24.9.10

man jadda wajada

Negeri 5 Menara

sebuah novel tentang pendidikan yang menggugah nurani.
bahasa yang dinamis, terkadang lembut, terkadang begitu kuat sehingga aku seolah ikut begadang semalaman untuk bersiap menghadapi ujian bersama alif. berkeringat memanggul lemari diburu lonceng tanda berkumpul di masjid. merasakan mual karena bau pengap di bus lintas propinsi yang ditumpanginya. merasakan debar jantung dan desir darah ketika bertemu dengan sarah. dan berteriak dengan lantang hingga semua otot leher terasa kaku dan suara serak "MAN JADDA WAJADA"

membaca novel ini, membuatku tidak ingin berhenti. aku ingin terus menekuri halaman demi halaman. ritme membacaku kadang cepat kadang lambat, mengikuti alur cerita. hingga ada rasa kehilangan ketika telah sampai di bagian akhir cerita.
 
satu lagi, novel yang sangat inspiratif bagi pendidikan. sebuah referensi fiksi yang terasa begitu nyata. dan berikut adalah cuplikan novel yang membuatku begitu tergugah, dan membuat alif benar-benar hidup:
 
 

“MAN JADDA WAJADA!!!”

Teriak laki-laki muda bertubuh kurus itu lantang. Telunjuknya lurus teracung tinggi ke udara, suaranya menggelegar, sorot matanya berkilat-kilat menikam kami satu persatu. Wajah serius, alisnya hampir bertemu dan otot gerahamnya bertonjolan, seakan mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk menaklukkan jiwa kami. Sungguh mengingatkan aku kepada karakter tokoh sakti mandraguna di film layar tancap keliling di kampungku, persembahan dari Departemen Penerangan waktu itu.

Man jadda waja: sepotong kata asing ini bak mantera ajaib yang ampuh bekerja. Dalam hitungan beberapa helaan napas saja, kami bagai tersengat ribuan tawon. Kami, tiga puluh anak tanggung, menjerit balik, tidak mau kalah kencang.


“Man jadda wajada! “

Berkali-kali, berulang-ulang, sampai tenggorokanku panas dan suara serak. Hingar bingar ini berdesibel tinggi. Telingaku panas dan berdenging-denging sementara wajah kami merah padam memporsir tenaga. Kaca jendela yang tipis sampai bergetar-getar di sebelahku. Bahkan, meja kayuku pun berkilat-kilat basah, kuyup oleh air liur yang ikut berloncatan setiap berteriak lantang.

Tapi kami tahu, mata laki-laki kurus yang energik ini tidak dimuati aura jahat sama sekali. Sebaliknya, dia dengan royal membagi energi positif yang sangat besar dan meletup-letup. Kami tersengat dan menikmatinya. Sumbu kecil kami terpercik api, mulai terbakar, membesar, dan terang! Kami bagai lilin kecil yang baru dinyalakan.

Dengan wajah berseri-seri dan senyum sepuluh centi menyilang di wajahnya, laki-laki ini hilir mudik di antara bangku-bangku murid barunya, mengulang-ulang mantera ajaib ini di depan kami bertiga puluh. Setiap dia berteriak, kami menyalak balik dengan kata yang sama, man jadda wajada. Mantera ajaib berbahasa Arab ini bermakna ringkas tapi tegas:

”Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”.

Laki-laki ramping ini adalah Ustad Salman, wali kelasku. Rambutnya ikal dipotong pendek, jambangnya dibiarkan agak pajang. Wajahnya lonjong kurus, sebagian besar dikuasai keningnya yang lebar. Alisnya yang tebal datar menaungi sepasang bola matanya yang lincah dan memancarkan sinar kecerdasan. Dagunya ditumbuhi jenggot yang dipangkas rapi. Kaki dan tangannya yang panjang gesit bergerak ke setiap sudut kelas. Sebuah dasi berwarna merah tua terikat rapi di leher kemeja putihnya yang licin. Kedua lengan bajunya lebar dan berkibar-kibar setiap dia melenggangkan tangan dengan cepat. Lipatan celana hitamnya berujung tajam seperti baru saja disetrika. Sepatu hitam bertalinya mempunyai sol tebal dan selalu berdekak-dekak setiap dia berjalan di ubin kelas kami.

Selain kelas kami, ada sekitar puluhan kelas lain yang bernasib sama. Masing-masing dikomandoi seorang kondaktur yang energik. Sang kondaktur menyalakkan “manjadda wajada” dengan penuh otoritas sehingga membuat para subjeknya tergugah dan menjerit kencang. Hampir satu jam non stop, kalimat ini bersahut-sahutan dan bertalu-talu. Koor ini bergelombang seperti guruh di musim hujan, menyesaki udara pagi di sebuah desa terpencil di udik Ponorogo.

Inilah pelajaran hari pertama kami di PM. Kata mutiara sederhana yang sangat kuat yang terus menjadi kompas kehidupan kami kelak.

Negeri Lima Menara adalah novel pertama A. Fuadi. Diterbitkan Gramedia pertengahan Agustus 2009. Novel ini bagian pertama dari trilogi.
sumber: http://www.negeri5menara.com/index.php/intipisi/cuplikan-novel/58-cuplikan-5-man-jadda-wajada

4.7.10

3 idiots

okay...satu lagi film yang baru aku tonton di masa liburan ini.
film india tepatnya.

ini adalah film hollywood kedua yang aku tonton yang temanya bukan cinta melulu....
sebelum film ini, aku selalu menikmati bintang bollywood dan nyayiannya dalam film-film yang bertema cinta, sebut saja kuch-kuch hota hai, kal ho na ho, kabhi kushi kabhi gham, chalte chalte, dan kabhi al vida na kehna.

aku adalah penikmat film, dalam genre apapun, dari negara manapun. tapi yang sering dan paling suka ditonton adalah produksi Hollywood genre romantic comedy and drama. yang hampir selalu berhasil membuatku terbahak dan termehek hehehe

kembali fokus pada film yang baru saja aku tonton ini, 3 idiots. aku tidak tertarik dengan judulnya. makanya walaupun film ini sudah di review dan dirilis dari desember 2009, aku baru menontonnya hari ini.
judulnya yang kalau diartikan menjadi tiga orang bodoh, membuatku membayangkan bahwa sepanjang film akan diisi dengan tindakan-tindakan konyol dari para tokohnya, nyayian dan goyangan konyol khas film india, apalagi durasinya 3 jam. ohhh BIG NO NO.....

tapi setelah menonton, semua bayangan jahat dan buruk tentang betapa idiotnya film ini menguap.
aku justru mendapati ide cermerlang tentang sekolah dan pendidikan.
film ini dibuat berdasarkan novel dengan judul "five point someone" oleh Chetan Bhagat.
tapi sang sutradara Rajkumar Hirani mengubah nama dan atribut para tokohnya. Secara garis besar film dan bukunya terasa berbeda, karena plot dari buku dimodifikasi untuk kesesuaian dengan plot film.

film ini bercerita tentang tiga mahasiswa universitas teknik terkemuka yaitu ICE. tapi dalam perjalanan kuliahnya, mereka menemukan bahwa diperguruan tinggi terbaik pun banyak ditemui uninspiring teacher, rigid teaching method, yang tidak memberikan kesempatan para mahasiswa untuk berkembang.
semuanya harus patuh pada aturan kampus, semuanya hanya terfokus pada cara mendapatkan nilai yang bagus agar dapat bekerja di perusahaan besar dan menjadi sukses secara materi. 
di dalam kelas tidak ada kesempatan bagi para mahasiswa untuk berdiskusi tentang ilmu yang mereka pelajari, semuanya harus terfokus pada buku teks yang dipakai. bahkan saking ketatnya peraturan kampus, ada mahasiswa yang mati bunuh diri karena tidak lulus. 
tiga tokoh utama dalam film ini digambarkan sebagi kaum pembaharu yang ingin mengubah sistem universitas yang kaku. meski dalam perjalanannya mereka harus menghadapi banyak rintangan, hingga nyaris dikeluarkan dari kampus dan salah satunya nyaris mati bunuh diri.
dalam perkembangan plotnya, film ini sebenarnya menghadirkan kisah klasik yang terjadi pada masyarakat kebanyakan.
tuntutan untuk sekolah agar menjadi orang sukses, agar bisa mengubah yang miskin menjadi kaya. (digambarkan oleh tokoh raju rastogi yang kuliah dijurusan teknik untuk mengangkat keluarganya dari kemiskinan)
anggapan stereotip tentang profesi tertentu yang lebih menjanjikan dibanding profesi yang lain. (digambarkan oleh tokoh farhan yang dipaksa untuk kuliah dijurusan teknik karena sang ayah tidak suka dia menjadi fotografer dengan penghasilan rendah)

seperti film bollywood kebanyakan, dalam film ini akan dijumpai tarian dan nyayian. juga ada beberapa adegan yang terlalu didramatisir bahkan cenderung lebay. ada juga bumbu tentang cinta dan happy ending khas film india. 

yang paling membuat film ini berkesan adalah salah satu tokoh central dalam film ini  (rancho) mengatakan bahwa kita tidak harus mengejar sukses tapi harus menjadi unggul, karena kesuksesan akan datang menghampiri orang yang unggul. 
juga anggapan bahwa kesuksesan bukan hanya melulu materi. karena itu dalam bekerja atau memilih pekerjaan, kita harus memilih dan melakukan yang kita suka agar kita bahagia. 
belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai dan gelar insinyur tetapi untuk mendapatkan pengetahuan.  
sebuah pemikiran dan prinsip yang patut untuk dicontoh. terutama karena dalam dunia pendidikan yang aku geluti, banyak siswa ataupun guru yang lebih menekankan pada perbaikan nilai akademik, daripada fokus pada perkembangan kognitif pengetahuan maupun pengembangan diri dan sikap.
yup, ternyata 3 idoits are not idiot at all, they are brilliant :)

xoxoxo
dwizan